02 Oktober 2009

Batik, momentum baru untuk berkreasi.

Sebagai bangsa yang kreatif, sudahlah kita jangan sekedar reaktif terus. Bukankah kita memang kurang "open" (jawa) terhadap milik kita sendiri? Inovasi anak bangsa seperti singkong mukibat (temuan pak Mukibat), ikan mujair (rekayasa pak Mujahir) tak banyak dikenal karena tidak ada publikasi. Di bidang bahasa saja kata "berdikari" yang kreasi bung Karno justru dipakai tetangga sementara kita lebih suka menggunakan istilah asing seperti independen atau self sufficient.

Nah, momentum penetapan batik sebagai World Heritage milik bangsa Indonesia oleh Unesco adalah saat yang tepat untuk kembali menjadikan batik sebagai kebudayaan yang hidup dan terus berdenyut menafasi seni, pendidikan, ekonomi, bukan semata dokumentasi yang mati.
Bukankah ternyata remaja kita memiliki elan kreatif yang mengagumkan, seperti Anda lihat dalam gambar ini. Siswa SMK Negeri 3 Jember merayakan hari itu dengan ciptakarya batiknya.

30 September 2009

Hari-hari Nabila Adalah Pengalaman Puitis.

Wah saya keduluan Nabila. Gadis mungil sembilan tahun itu sudah menerbitkan kumpulan puisi. Sore itu ayahndanya mengirim dua kopi diantar sendiri ke rumahku.
Tigapuluh tiga buah puisi yang termuat dalam antologi itu adalah rekaman pengalaman hari-hari seorang bocah cilik tanpa bumbu retorika yang artifisial. Nabila menghayati hari-harinya sebagai pengalaman puitis. makanya ia tidak menulisnya dalam ujud prosa. Ia berkomunikasi secara intuitif terhadap lingkungan, orang-orang, benda-benda di sekitarnya, peristiwa-peristiwa. Ia tidak sekedar berkisah tentang itu, ia merefleksi dengan caranya.
Ah, Nabila memang beruntung ayahnya mengakomodasi kemampuannya yang berharga itu. Saya percaya, kelak Nabila akan bertumbuh menjadi penulis puisi bukan saja karena ia berbakat. tetapi juga karena lingkungan yang menunjang dan ada orang yang mendorongnya dengan sungguh-sungguh. (Surat Kepada Milla ,kumpulan puisi Nabila Dwi Nuryanti (9th).

05 Agustus 2009

Beri Nilai Tambah Ponselmu



Seperti katamu untuk apa peralatan milikmu itu kaugunakan, nampaknya masih sebatas iseng dan main-main. Maksudku, bukan alat itu tak bermanfaat, tapi cobalah manfaatkan untuk menunjang kegiatan belajarmu sehingga ia bernilai tambah. Bukankah kamu bisa mendownload kamus gratis atau apa saja yang bisa menunjang kegiatanmu di sekolah. Kemudahan yang kau miliki yang tak menunjang prestasimu sepertinya cuma pemborosan.
Nah, setelah kamu coba bersama hari ini kamu bisa melihat sendiri. Mengamati dan merekam keindahan di sekitarmu yang sering kauabaikan, itu melatih kepekaanmu. Bukankah begitu?
Selanjutnya karyamu itu akan kuseleksi, nanti kita akan bukukan. Setuju?

24 Juli 2009

Dongeng Itu Menjadi Bawah Sadarku.

Sebagian besar dari kehidupanku ternyata digerakkan oleh bawah sadarku. Dongeng yang kudapat dari ibu, kakak, guru maupun buku-buku yang kubaca di masakecilku sangatlah besar maknanya bagi diriku. Di masa dewasaku aku menemukan sebuah tempat "pelarian" yang aku yakin adalah sebuah kemampuanku sebagai hasil dari kerja dongeng-dongeng itu. Maka aku sangat memujikan kebiasaan istriku untuk mendongeng bagi anak-anak maupun cucunya. Bagi seorang ibu mendongeng bagi putranya samalah pentingnya dengan menyusui atau menyuap nasi. Gizi yang diberikan dongeng terhadap pertumbuhan pribadi putranya juga akan sangat dipengaruhi bobot dongeng yang selalu dikisahkan. Apakah membentuknya kelak menjadi anak manja, kreatif, religius atau.... penakut? Ya, kalau dongengnya serem melulu? Maka selektiflah memilih dongeng.
Sumber: www.mitrabaca.blogspot.com

23 Juli 2009

Kecerdasan Itu Sekedar Titipan

Sang Maha Cerdas menitipkan sebagian kecerdasan kepada kita sebagai wujud pemuliaan terhadap hambaNya. Maka sesungguhnya kecerdasan yang kita miliki itu juga dalam rangka memuliakanNya. Berbahagialah ia yang menggunakan kecerdasannya untuk membahagiakan dirinya dan orang lain, bukan untuk menghancurkan. Semoga kita diberi jiwa yang damai dan tenang agar bisa menghadapNya kelak dengan penuh keridhaanNya.